
Tiap orang berhak atas cita-cita nya. Tidak ada kata terlambat
Ya inilah yang rasakan sore ini. Melihat seorang teman, tidak terlalu dekat memang, tapi sekian lama saya tau kisah perjuangan hidupnya. Yang jelas dia telah merasakan hantaman problematika hidup. Terlepas dari bagaimana dia meresponnya, bisa cuek ataupun tidak, yang jelas pengalaman itu pastilah telah banyak memperkuat sendi-sendi kehidupan darinya.
Ya, inilah yang saya pelajari dari dirinya. Semangat !!, Tebal Muka !! Pantang Menyerah !!. Apapun yang terjadi pada dirimu sekarang. Bagaimana kamu dilihat dan dinilai orang lain, yakinlah kamu masih punya mimpi untuk diperjuangkan. Mimpi untuk bisa setara dengan orang lain. Mungkin, masa kelam telah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Namun, hari esok kita bukan ditentukan oleh masa lalu kita, namun apa yang akan kita lakukan sekarang.
Hidup bukan ditentukan oleh orang lain
Taking back control of your life. Tanpa kita sadari, di masa-masa sulit sering kita hidup untuk orang lain. Penilaian orang lain adalah nyawa hidup kita. Jabatan, gelar, status adalah nyawa kita satu-satunya. Semua dikorbankan. Rasanya takut sangat ketika kita dilihat tidak sempurna oleh orang lain. Sepertinya jalan kita itu sudah ditentukan oleh pakem yang sudah ada. Seperti, kalau sudah kuliah 3,5 tahun, ya sudah saatnya kamu selesaikan skripsi mu, lulus, punya kerjaan dengan gaji 4 atau 5 koma, pastikan hubunganmu dengan si doi, menikahlah, kreditlah kendaraan,, rumah dan aset lainnya. Kemudian pensiun di kala usia sudah tak lagi produktif, Menikmati masa tua dengan usaha kecil-kecilan.
Saya gak bilang kalau ini salah atau pun benar. Tetap bisa sangat salah ataupun sangat benar. Karena kan yang tau diri kita yang kita sendiri bukan orang lain. Saya pun juga bisa jadi bagian alinea 3 atapun tidak jadi bagian itu.
Tuhan terkadang mengingatkan kita untuk mengerem sebentar
Saya hanya belajar bersyukur karena saya pernah diminta Tuhan untuk mengerem kehidupan ini. Ketika lulus dengan sangat cepat 3, 4 tahun dimana skripsi ditempuh dengan 3 bulan. Dapat kerja dengan gaji 3 koma, kemudian sampai di seleksi tahap terakhir di perusahaan multinasional ternama pada jabatan management development program memberikan pelajaran yang teramat berharga bagi saya. Bahwa bila Tuhan belum berkehendak , ya berarti belum. Saya hanya bersyukur karena pabila kendaraan (baca : diri kita) melaju dengan kencangnya, kita jadi tidak punya waktu untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Mungkin awalnya berpikir : betapa sialnya aku ini dan betapa jahatnya Tuhan, dimana setelah rajin berdoa tapi tidak dikabulkan. Tapi, saya malahan berpikir, bahwa Tuhan mengabulkan permintaan saya dengan cara yang berbeda dan sangat lebih berharga.
Inilah perasaan yang saya rasakan 3 bulan ini , terhitung dari lulus 3 bulan yang lalu. Sekali lagi saya berkata pada diri saya sendiri : “yang tau diri kita sendiri ya kita sendiri, bukan orang lain”. Berpasrah lah. Percaya pada yang terjadi sudah ada yang mengaturnya. Dan bila kita diberi kesempatan Tuhan untuk rehat sejenak, iklaslah karena tak ada kata-kata terlambat bagi kita yang punya cita-cita.